Kam02222018

Last update12:37:21 AM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Home BARUGA BARUGA Sosial Budaya Acara Ritual Adat Pamona

Acara Ritual Adat Pamona

alt
alt
  • Sebelumnya
  • 1 of 2
  • Selanjutnya

Bupati Poso, Darmin Agustinus Sigilipu menghadiri acara Ritual Adat Pamona Poso yang tadi pagi yang dilaksanakan di Desa Uranosari Kecamatan Pamona Barat, Sabtu (03/02/18). Kegiatan ini dimaksudkan untuk melestarikan Adat Budaya Poso sebagai suatu syarat yang harus dipenuhi dan akhir-akhir ini mulai dilupakan. Suatu ritual adat, merupakan keharusan bagi masyarakat terlebih menjelang waktu tanam padi. Dengan harapan agar hasil panen melimpah serta untuk menjauhkan dari hal-hal yang negatif. Didampingi Dandim 1307 Poso, Kadis Pertanian, Kaban BKPSDM, Kepala Inspektorat, Kadis Sosial, Camat Pamona Barat serta beberapa kepala desa, Danramil dan Kapolsek. Masyarakat riuh memenuhi jalan desa menyambut Pimpinan Daerah yang mereka cintai, Bupati Poso menyalami mereka satu-persatu setelah disambut dengan pengalungan bunga dan pemasangan siga. Menyusuri jalan desa menuju sungai tempat akan digelarnya ritual adat.

Kegiatan ini perlu didukung oleh kita semua, karena adat istiadat adalah sesuatu prosesi sakral sebagai alat kontrol dan ketahanan sosial. Warisan yang harus dilestarikan, karena adat merupakan kekuatan bagi masyarakat untuk hidup berdasarkan aturan lama yang ternyata sangat efektif. Adat mengharuskan masyarakat hidup rukun, damai, saling mengasihi dan saling menghidupi. Suatu peristiwa yang terjadi sebagai akibat dari pelanggaran, tradisi ini sebagai salah satu cara untuk membersihkan diri sehingga masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan sebaiknya, sesuai tujuan dan nyaman menjalankan seluruh kegiatan.

Dalam Ritual Morambulangi, Tetua adat akan membacakan mantra dengan keras : "Boo indo inondaeo, boo poee mpalaboero,indo ntemagolili, magolili tana se'i
oe ngkai saeo. A bara Morongo ngkai pai makoempoe, sala barala Morongo sangko, sala bara mbi mpenganya-ngaya, seimo baula samba'a, wawoe samba'a pai manoe mba'a paka sala mami poera poera. Papewalika pae mami pai poera-poera anu ka indo irondaeo, o poee mpalaboeroe. Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi : Indo inte magol yang mengitari bumi tujuh kali sehari. Mungkin dosa yang di sebabkan karena perkawinan yang terjadi antara kakek dan cucunya. Perkawinan seorang ayah dengan anaknya, atau saudara laki-laki dengan saudara perempuannya, mungkin dosa lainnya oleh karena ketidak adilan yang terjadi dan sebagainya. Untuk itulah saat ini kami membayar utang-utang tersebut dengan
mempersembahkan seekor kerbau, seekor babi, seekor kambing, dan seekor ayam. Semoga dengan ini semua padi kami dan semua yang akan ditanam untuk kebutuhan kehidupan kami akan tumbuh subur. Kemudian hewan tersebut di sembelih, setelah di potong-potong kepala dan hati dari hewan hewan tersebut di tambah dengan telur ayam, 1 atau 2 koin
logam, pinang, sirih serta sedikit kapur dan tembakau lalu ditempatkan dalam perahu dan di hanyutkan ke sungai. Pakaian sepasang manusia yang terlebih
dahulu dilumuri darah hewan hewan kurban lalu di kubur dalam tanah. Pakaian seorang laki-laki dan perempuan, merupakan pakaiam yang sudah di pakai. Sewaktu dipakai, telah melakukan hal yang melanggar ketentuan baik secara Agama dan Adat. Sehingga harus ditanam/dikuburkan, sehingga keadaan akan kembali menjadi bersih. Segala kesalahan dimasa lalu tidak akan diungkit dan diingat lagi serta diharapkan tidak akan terulang lagi.

Penyerahan sekapur sirih Ketika waktu makan tiba, orang-orang akan makan bersama ditempat itu sampai makanan yang disediakan habis. Hewan korban yang sudah dimasak tidak boleh dibawa kerumah, daging dan makanan lain yang tersisa akan digantung di dahan pohon di tempat itu untuk dimakan pada hari berikutnya.

Penggunaan hewan korban sebagai alat ritual, sebagaimana kebiasaan adat pamona harus menggunakan babi. Namun karena masyarakat Poso yang Pluralis, terdiri atas beberapa agama lain yang hidup rukun dan juga ikut memberikan andil dalam tradisi adat Pamona, maka digunakan hewan kambing. Hewan ini yang akan dimasak dan menjadi santapan bagi umat agama lain yang ikut dalam suatu upacara adat. Sebuah aturan yang mengikat, namun tidak memaksa. Toleransi yang kuat ditunjukkan melalui adat ini.

Sambutan Kepala Desa Uranosari, Agus Oko Priyanto. Pada tahun 1985 dibuka lahan transmigrasi dengan nama Swakarsa Mandiri. Tahun 2003 tempat ini menjadi desa persiapan yang sebelumnya merupakam bagiam dari desa Toinasa. Tahun 2004 diresmikan menjadi desa definitif dan diberikan nama Uranosari. Jumlah Penduduk sebanyak 684 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga adalah 176 KK. Beberapa Agama yang dianut oleh masyarakat Uranosari, yaitu : Kristen Protestan, Katolik, Islam dan Hindu. Masyarakat terdiri dari bebera Suku, yaitu : Pomona, Toraja, Kaili, Bugis, Jawa dan Bali. Masyarakat memgharapkan diperbaiki jalan masuk ke desa, dan karena cocok untuk tanaman salak, maka diharapkan desa ini akan dijadikan kampung salak oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Poso.

Ketua adat desa Uranosari, S. Ariman mengharapkan bantuan dari Dewan Adat Kabupaten, untuk menambah referensi dalam hal pengetahuan dan pemahaman agar dalam pelaksanaan tugas teristimewa menjalankan sanksi adat bisa berjalan baik dan sesuai aturan baku yang telah diatur dalam peraturan adat.

Sambutan Bupati Poso Darmin Agustinus Sigilipu, menekankan pada sebuah pepatah. Dimana langit dijunjung, disitu tanah dipijak. Kalimat ini mempunyai makna bahwa bagi siapa saja yang ingin berbaur dan tinggal di tana poso harus mengikuti aturan adat yang berlaku. Adat merupakan sebuah simbol untuk kehidupan yang lebih teratur, karena banyak memuat nilai-nilai moral dan etika serta sangat mengutamakan toleransi dalam hidup bermasyarakat. Adat mensejajarkan seluruh masyarakat, sehingga dapat hidup berdampingan.

Adat mempunyai peranan penting dalam struktur kemasyarakatan, karena dapat dijadikan pedoman yang berlaku secara adil tanpa membeda-bedakan status. Pamona adalah suku terbesar yang mendiami tana Poso, disamping beberapa suku lainnya yang kesemuanya bersinergi untuk menerapkan ketentuan hidup agar sejalan dengan aturan Hukum yang berlaku di Indonesia. Penerapan sanksi adat, saat ini disesuaikan dengan kondisi yang ada. Meskipun demikian, harus dipahami bahwa ada konsekwensi yang mesti diterima jika melanggar aturan.

Mengakhiri sambutannya, Bupati Darmin menjawab harapan warga masyarakat Uranosari, dengan menyatakan bahwa akan diperbaiki jalan masuk serta langsung memberikan tugas kepada Kadis Pertanian untuk menjadikan desa Uranosari sebagai kampung salak, sesuai koridor yang semestinya. Mengenai lapangan olah raga, Bupati Poso menyatakan bahwa Dana Desa yang telah digulirkan oleh Pemerintah pusat, dapat digunakan untuk penyediaan lapangan olah raga. Kepala desa harus memprioritaskan kegiatan yang harus dijalankan untuk membangun desa. Manfaatkanlah dengan sebaiknya kepercayaan yang telah diberikan oleh Pemerintah. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat secara berkesinambungan, akan menjadikan Kabupaten Poso seperti harapan semua orang, Poso yang cerdas dan Poso yang meraih Adipura.