Jum09222017

Last update02:01:09 AM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Home BARUGA BARUGA Keagamaan Jaga Masjid Sebagai Pusat Syiar Damai

Jaga Masjid Sebagai Pusat Syiar Damai

alt
alt
  • Sebelumnya
  • 1 of 2
  • Selanjutnya

Bupati Poso membuka secara resmi dialog interaktif dengan para narasumber bersama tokoh agama dan para takmir masjid dengan tema “Jaga Masjid kita sebagai Pusat Syiar Damai” pada Kamis (24/8/17) di Gedung Torulemba Rujab Bupati Poso.



Bupati Poso dalam amanat tertulisnya yang dibacakan oleh Wakil Bupati Poso Ir. Samsuri, M.Si adalah bahwa kegiatan ini adalah hal yang sangat tepat karena masih dalam suasana Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72, kembali memaknai substansi peristiwa bersejarah sebagai semangat dan tekad bulat untuk tetap menjaga keutuhan, kedaulatan, kesatuan Negara Republik Indonesia.


Bupati Poso juga berharap kiranya melalui momentum kegiatan pelibatan takmir masjid dalam pencegahan terorisme di poso, ini diharapkan mampu merevitalisasi dan memperkuat semangat kebangsaan dan nasionalisme bagi semua lapisan masyarakat dalam rangka pencegahan paham radikal dan isis demi keutuhan dan kesatuan NKRI.
Dalam akhir amanat tertulisnya Bupati mengingatkan bahwa tingkat kepedulian dan keterlibatan seluruh masyarakat merupakan kunci utama tentang bagaimana semua elemen bersama mencegah aksi dan ancaman terorisme yang telah menyebar dan menyusup diberbagai lini kehidupan, Sebaliknya sikap acuh dan tidak peduli masyarakat merupakan wilayah rentan yang berpotensi menyuburkan jaringan dan paham terorisme untuk berkembang biak secara leluasa di tengah masyarakat. Para tokoh dan seluruh masyarakat adalah tulang punggung deteksi dini yang cukup penting dan efektif dalam mencegah terorisme. Kerjasama sama antar instansi pemerintah dan masyarakat secara sinergis dan berkelanjutan akan menciptakan kultur yang baik demi terciptanya tatanan masyarakat yang siaga terorisme, tambahnya Samsuri.


Direktur Pencegahan BNPT, Hamli, mengingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh kekejaman kelompok pelaku terorisme yang menamakan dirinya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Masyarakat Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, diingatkan jangan sampai wilayahnya menjadi seperti Irak dan Suriah.
Hal ini disampaikan oleh Hamli saat menjadi narasumber pada kegiatan dialog bertema “Jadikan Masjid Kita sebagai Pusat Syiar Damai” yang menghadirkan 100 orang takmir dari 6 kecamatan di Kabupaten Poso. Dalam paparannya, Hamli mengungkapkan jalur yang kemungkinan digunakan kelompok ISIS dan simpatisannya di Asia Tenggara untuk menuju ke Filipina Selatan.

“(Kemungkinan jalur itu) ada di Tarakan, Sangir dan Morotai. Semuanya dekat dengan Poso. Bapak Ibu harus waspada, jangan sampai Poso menjadi lokasi persembunyian dan transit mereka,” pesan Hamli.


Menjadi lokasi persembunyian dan transit anggota ISIS serta simpatisannya, lanjut Hamli, sama artinya menyerahkan Poso untuk dihancurkan. “Kita semua memiliki kehidupan, memiliki masa depan. Tentu tidak ingin di Poso ini setiap hari ada tembak-tembakan, ada bom, atau ada serangan pasukan militer,” lanjutnya.
Untuk menghindari kemungkinan rusaknya Poso karena menjadi lokasi persebunyian ISIS dan simpatisannya, Hamli mengajak masyarakat, khususnya takmir masjid, untuk sedini mungkin mengenali tanda-tanda gerakan radikal terorisme. Upaya pencegahan diakuinya menjadi pilihan terbaik dibandingkan penindakan.
Sementara mantan narapidana terorisme, Kurnia Widodo, di kesempatan yang sama mengungkapkan pengalamannya mengenal paham radikal terorisme yang terjadi di sebuah masjid di Bandar Lampung.
“Di sana memang takmirnya satu aliran, kita kuasai masjid itu. Jadi mudah saja mendoktrin dan membaiat orang-orang yang datang,” ungkap Kurnia.
Kurnia mengungkapkan pengalamannya tersebut sebagai pengingat, ketika masjid dikuasai oleh kelompok pengusung paham radikal terorisme, kemungkinan akan disalahgunakan menjadi lokasi penyabarluasan paham yang diyakini kelompok tersebut.

Mari jaga masjid Bapak dan Ibu sekalian, jangan sampai dikuasai kelompok-kelompok pro radikal, kelompok pelaku terorisme,” tambahnya.
Dalam paparannya alumni Teknik Nuklir ITB tersebut juga mengungkapkan ciri-ciri kelompok yang biasa menduduki masjid untuk penyebarluasan paham radikal terorisme. Antara lain kedatangannya tidak untuk berjamaah, merasa keyakinannya paling benar dan mudah mengkafirkan dan bersikap tertutup. 
“Ketika ada jamaah di masjid, mereka tidak mau jamaah karena menganggap jamaah yang ada tidak sealiran. Kalau ada orang atau kelompok semacam itu, waspadai, jangan sampai menguasai masjid Bapak dan Ibu sekalian,” pungkas Kurnia.

Dialog ini mengangkat tema “Jaga Masjid Kita sebagai Pusat Syair Damai” di Poso terselenggara atas kerjasama BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah.